Bekal Apa yang Harus Kita Persiapkan Untuk Sang Buah Hati?

08 Januari 2019 Posted by
Bekal Apa yang Harus Kita Persiapkan Untuk Sang Buah Hati?
Nak, sudahkan engkau shalat? Sudahkan bersedekah atas penghasilanmu bulan ini? Sudahkah engkau mengaji hari ini? Bagi sebagian anak, utamanya yang telah tumbuh dewasa, bahkan mereka yang beranjak paruh baya, deretan pertanyaan ini terdengar lucu. Namun, tanda tanya ini adalah ekspresi suci kekhawatiran orang tua kita tentang bekal hidup setelah mati.

URBANESIA.CO.ID – Siklus manusia secara umum selalu mengalami putaran yang teratur. Dari bayi, ke balita; anak-anak, remaja, dewasa; paruh baya, tua, dan mati. Tak ada lompatan dalam siklusnya. Kalaupun ada, hanya kematian yang mendahuluinya. Karena ini menjadi garis ketentuan Tuhan yang tak ada seorang pun yang sanggup mengelaknya.

Ketika memperbincangkan siklus manusia, maka kita akan sampai pada sebuah pertanyaan, apa setelah kematian? Adakah kehidupan di dalam kematian? Tak ada yang sanggup menjawab pertanyaan besar ini kecuali hanya perkiraan semata. Kecuali ketika kita menyadari pentingnya peran agama yang menjelma dalam dogma Kitab Suci, yang dengan meyakinkan memberikan jawaban atas tanda tanya ini. Namun, itu pun hanya diperuntukkan bagi mereka yang memercayainya.

Karena itulah, bagi mereka, terutama orang-orang yang mulai mendekati ajalnya merasa khawatir dengan apa yang akan ditinggalkannya. Akankah bekal kematiannya telah mencukupi? Sebab, alam arwah tidak menghendaki kecuali yang spiritual. Tak ada kebutuhan material di dalamnya. 

Kebutuhan material dalam kehidupan duniawi harus mewujud dalam nilai-nilai ruhani dan spiritual. Semuanya harus kembali kepada satu lokus. Tubuh, harta-benda, anak-anak, perbuatan; semua bermuara pada satu titik dan tujuan: Tuhan Semesta Alam, sebagai puncak kembali segala sesuatu, termasuk jiwa manusia itu sendiri.

Seseorang yang sedang menghadang ajalnya akan menghadapi berbagai kekalutan insaniah. Ini seringkali digambarkan dalam Al-Quran bahwa mereka yang hendak menjemputnya ajalnya akan menghadapi dua kesedihan; kesedihan tentang apa yang ditinggalkannya, dan kesedihan yang akan dihadapinya. 

Pernyataan di atas mengingatkan kita pada satu narasi tentang kebimbangan Yakub yang disampaikan dalam wasiat Ibrahim kepada anak-anaknya: 

“Apakah kamu menjadi saksi saat kematian akan menjemput Ya'qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya. Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab. Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyongmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri ke-pada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 133)

image by insideonemagazine.com

Terlepas dari perdebatan seputar agama-agama dalam ranah penafsirannya, narasi ayat di atas menunjukkan betapa seriusnya keluarga ini dalam hal peribadatan dan keimanan. Yakub seakan ingin memastikan tentang, siapa yang akan menjadi sesembahan anak-anaknya sepeninggalnya. 

Bukan tanda tanya perihal warisan, harta-benda, jabatan, pangkat, dan kedudukan. Bukan pula keraguan tentang kelayakan sandang dan makanan bagi mereka yang ditinggalkan. Apalagi permasalahan materi dunia yang tidak jarang menjadi perebutan antaranak dalam satu keluarga, hingga mereka rela memutuskan hubungan silaturahmi. 

Yakub, yang kemudian direkam Al-Quran melalui ungkapan Ibrahim ini seharusnya menjadi kegelisahan utama bagi semua orang tua. Karena pendidikan tauhid dan keimanan yang diinstal ke dalam batin anak-anak, sehingga menjadi laku moralitas dan etika, adalah tanggung jawab orang tua. 

Bentuk kasih sayang orang tua tidak sekadar pemenuhan materi dan kemewahan, tetapi memasukkan nilai-nilai ruhani yang terdalam menjadi tanggung jawab yang hakiki orang tua. Tidak hanya bisa membaca al-Quran lantas lepas tanggung jawab keimanan itu selesai. Tidak lantas setelah anak bisa doa-doa hafalan shalat para orang tua terus melenggang. 

Lebih dari itu, menyadari bahwa keimanan manusia, sebagaimana ungkapan dalam hadis, yang selalu fluktuatif. Sehingga orang tua harus selalu mengontrol dan memperingatkan anak-anaknya tentang ragam ibadah, baik sosial maupun individual, meski mereka telah beranjak dewasa dan paruh baya.

Bahkan dalam beberapa kesempatan Nabi saw. pun masih terus ditegur oleh Allah swt. ketika melakukan kesalahan dalam pandangan-Nya. Seperti saat beliau mengacuhkan Abdullah Ibnu Ummi Maktum dengan teguran yang sangat lembut (Baca: QS 'Abasa [80]: 1-24) Karena itulah Nabi saw. bersabda: “Addabani Rabbi fa ahsana ta`dibi  [Tuhanku telah mendidikku, maka Dia jadikan pendidikanku menjdai baik]”

Dengan demikian, akan tumbuh generasi yang kuat jasmani, kokoh iman, mental, dan spiritual. Tidak mudah goyah dengan godaan duniawi. Tidak luntur dengan iming-iming materi, dan terutama tidak tunduk selain kepada Allah swt. Dan, inilah selayaknya menjadi cita-cita dan harapan semua orang tua yang mengharap wangi surgawi dan ridha Ilahi. Wallahu a’lam bish shawab 

 

 

 

 

Waktu Shalat Hari ini, 15 Oktober 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-