Hiasan Hidup di Dunia (2)

08 Januari 2019 Posted by
Hiasan Hidup di Dunia (2)
Ketika anak Anda nakal, sulit diatur dan suka membangkang pada orangtua, coba dicek kembali: apakah asupan gizi yang Anda berikan itu didapat dari rezeki yang halal atau haram.

URBANESIA.CO.ID – Harta dan anak adalah perhiasan hidup di dunia. Ini keniscayaan, tak ada yang membantahnya. Karena itu, mungkin sebagian dari Anda akan bilang, “Semua orang tahu itu, tak perlu ulasan yang njelimet dan berbelit-belit.”

Benar. Meski ungkapan itu seterang matahari bersinar di siang hari di saat langit cerah tanpa awan menggulung di angkasa, tapi tak semua orang mau mengambil hikmah dan pelajaran. Ketika tertiban masalah, biasanya baru kembali ke nilai-nilai agama.

Artinya, agama hanya diperlukan di saat ada masalah. Kalau sedang aman-aman saja, ya suka-suka. Ungkapan yang paling populer, “Horang kaya kok, ya suka-suka dia saja. Wong dia mampu bayar, semua jadi benar.”

Ketika Tuhan menegur, nikmat itu sedikit saja dicabut, dia jadi kalang kabut. Misalnya, anak kecanduan, maka dia berusaha mencari jalan keluar. Akhirnya, anaknya dibuang ke pesantren. Dikiranya, pesantren adalah tempat rehabilitasi yang tepat.

Kalau tidak percaya akan hal ini, coba saja lakukan survei di pesantren. Ajukan pertanyaan, kenapa dia masuk pesantren? Apa dia pernah make sebelum masuk pesantren?

Keputusan ini tak sepenuhnya salah karena Tuhan punya cara sendiri untuk mendidik manusia, jalannya bisa beraneka rupa. Tapi ini ada cumanya—rasanya kurang elok saja. 

Padahal, Nabi pernah berwasiat kepada kita, api neraka lebih berhak atas darah dan daging yang tumbuh dari harta yang didapat dengan cara haram. Ini semacam peringatan kepada kita agar para orangtua introspeksi diri—jangan-jangan kenakalan anak-anak kita sumbernya dari orangtua. 

Masaru Emoto pernah melakukan penelitian yang tertuang dalam buku The True Power of Water bilang, partikel molekul air itu bisa berubah-ubah sesuai dengan perilaku manusia di sekelilingnya.

Lalu bagaimana dengan partikel molekul darah atau daging yang berasal dari rezeki yang tidak halal? Dalam bahasa sederhana, semua itu bisa menjadi hijab bagi anak untuk menerima kebenaran. Karena itu, jangan sampai memberi makan anak-anak dari harta yang didapat dengan cara batil.

Jadi, jangan berharap anak kita tumbuh dengan baik, kalau kita mencekoki dengan rezeki dari hasil korupsi, menipu, mencuri, atau bahkan dengan cara yang paling halus, tapi sebenarnya itu cara-cara batil. Rezeki itu menjadi batil sejak dari pikiran, hati, dan niatnya. Ini pokok pangkalnya. 

Bagi orang yang biasa kampanye menjajakan surga, maka bicara surga dan neraka akan menjadi hal yang ringan saja. Surga seolah dikapling-kapling menjadi miliknya sendiri, sedang yang lain silakan pergi ke neraka. 

Sedangkan bagi orang yang setiap harinya memantas diri untuk bisa masuk surga, bicara surga dan neraka menjadi hal yang berat. Ia betul-betul menjaga setiap amal dan perbuatannya karena setiap jengkalnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Artinya, ia lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada orang lain. Apalagi hari pertanggungjawaban nanti itu sendiri-sendiri, tidak bisa secara kolektif, borongan alias bersama-sama dengan orang lain. 

Allah SWT mengingatkan, yang lebih baik bisa menjadi harapan kita nanti hanya amal saleh. Inilah yang menjadikan harta dan anak-anak kita sebagai perhiasan hidup yang sesungguhnya, menyejukkan pandangan mata, menenangkan jiwa, serta memberi kepuasan dan kelapangan batin. 

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. al-Kahfi [18]: 46)

 

Waktu Shalat Hari ini, 15 Oktober 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-