Tujuh Tanggung Jawab Orang Tua Kepada Anaknya (1)

10 Januari 2019 Posted by
Tujuh Tanggung Jawab Orang Tua Kepada Anaknya (1)
Konon, anak-anak kita mewarisi setengah ilmu orang tuanya. Dalam realitasnya, ungkapan ini tidak sekadar ilmu lahir yang tampak mata. Namun termasuk di dalamnya adalah kepribadian yang baik dan saleh. Anak-anak kita akan melihat sikap dan perangai keseharian kita. Mencerap, menyaring, lalu menuangkannya dalam sikap dan tingkah lakunya. Ekspresi mereka adalah setengah pengejawantahan kita.

URBANESIA.CO.ID – Anak adalah karunia paling istimewa dari Allah swt. Kehadirannya wajib kita syukuri sebagai bentuk kepercayaan-Nya kepada kita. Berapa banyak orang yang mengharapkan kehadiran seorang anak, namun Allah belum berkehendak. Sebaliknya, banyak orang tua yang telah dikaruniai anak, tetapi justru menyia-nyiakannya.

Salah satu bentuk penyia-nyiaan orang tua dengan kehadiran seorang anak adalah tidak memerhatikan pendidikan mereka secara baik, tepat, sesuai tuntunan Rasulullah saw. sebagai teladan suci bagi seluruh umat manusia.

Tidak sedikit di antara mereka yang terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan anak, utamanya orang tua hanya mementingkan aspek kognitif dan pedagogik, tapi melupakan aspek spiritualitas anak. Padahal, aspek terakhir ini menjadi sangat penting karena berhubungan dengan nilai-nilai ruhani yang akan melahirkan kebaikan moral dan etika keseharian. 

Moral dan etika ini pada akhirnya menjadi modal utama anak baik dalam kehidupan individual maupun sosial. Bagaimana anak berinteraksi dengan kawan sebayanya, dengan orang yang lebih tua, berbagai kasih sayang dengan anak di bawah usianya; bagaimana seorang anak memiliki empati, simpati, dan kebersamaan di dalam masyarakatnya. Khususnya bagaimana anak-anak kita mengarungi kehidupan dunia tanpa melalaikan tanggung jawab terhadap agama dan Tuhan. 

Bagi sebagian kalangan, tulisan ini terkesan doktriner. Seakan mendikte anak serta tidak memberikan kebebasan dalam memilih jalan hidupnya. Namun, itu semua menjadi pilihan kita. Sejauh mana anak akan melakukan pencarian hakikat kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi. Siapa yang bisa menjamin perihal kehidupan keagamaan anak-anak kita? Lantas, akankah kita membiarkan anak tanpa kontrol dan pendidikan yang islami?

Dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, Dr. Nashih Ulwan mengupas setidaknya ada tujuh tanggung jawab orang tua, termasuk di dalamnya para wali, atau mereka yang bertanggung jawab dalam pengasuhan anak. 

Ketujuh tanggung jawab itu adalah: 1. Pendidikan keimanan; 2. Pendidikan akhlak atau etika; 3. Pendidikan Jasmani; 4. Pendidikan akal/ nalar; 5. Pendidikan jiwa atau psikologis; 6. Pendidikan kemasyarakatan atau sosial; 7. Pendidikan Gender/ jenis.

Anak dan Ayah Sedang Berdoa / inilah.com

1. Pendidikan Keimanan

Pertama-tama adalah mengikat anak sejak pertama mampu berpikir dengan dasar-dasar keimanan, membiasakannya dengan rukun-rukun Islam, dan mengajarkan tentang prinsip-prinsip dasar syariat Islam. 

Ini semua menjadi keharusan orang tua untuk menumbuhkan pada diri seorang anak tentang pendidikan keimanan, yang dilanjutkan dengan memberikan dasar-dasar pengajaran Islam. Sehingga seorang anak akan tumbuh dengan akidah dan ibadah sesuai cara dan aturan Islam.

Demikian pula, dengan instalasi keimanan ini ia tidak akan memalingkan tujuan dan pendidikannya selain kepada Islam. Tidak menjadikan selain Al-Quran sebagai imam dan petunjuknya, serta tidak melihat selain Nabi Muhammad saw. sebagai teladan dan pegangan. 

Maka dari itu, sebagai orang tua kita dianjurkan untuk menghiasi hidup anak-anak kita dengan nilai-nilai keimanan. Di antaranya dengan membuka mata batin anak dengan kalimat tahlil: La ilaha illa Allah ketika anak baru lahir. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Bukalah (mata batin) atas anak-anak kalian dengan kalimat pertama La ilaha illa Allah.”

Hal ini agar kalimat tauhid menjadi kalimat pertama yang dikenal anak, menjadi sentuhan lisan pertamanya, sekaligus sebagai kalimat dan lafaz pertama yang berhubungan dengannya. 

Ini sekaligus mengingatkan kita pada perintah mengazani anak di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Karena tidak diragukan lagi ini memberikan bekas pada diri anak tentang dasar akidah dan pengenalan terhadap ketauhidan dan keimanan.

Selain itu, memperkenalkan kepada anak-anak kita tentang halal dan haram, seperti disebutkan dalam sebuah hadis, “Perbuatlah atas dasar ketaatan kepada Allah, dan takutlah untuk berbuat kemaksiatan terhadap-Nya. Kemudian, perintahlah anak-anakmu untuk mengerjakan segala perintah Allah, serta menjauhi larangan-laranganNya. Karena itu semua jalan keselamatan untukmu dan anak-anakmu dari api neraka”

Hadis ini menyiratkan bahwa yang pertama kali harus melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah orang tua dan pengasuh anak-anak. Setelah itu, baru memerintahkan anak-anak untuk perintah yang sama. 

Ini menunjukkan orang tua dan pengasuh harus yang pertama kali melakukannya. Sebab, secara intrinsik perintah tidak akan sampai kepada anak manakala orang tua tidak melakukannya. Perintah orang tua tidak akan dijalankan anak saat orang tuanya tidak memberikan teladan dan memperkenalkan dan mengajak mereka secara langsung. 

Orang tua dituntut menjadi teladan ketika ia menghendaki untuk didengar dan dijalankan perintahnya. Menggandeng tangan mereka ke masjid, bersila bersama dalam majlis ilmu, dan mendampinginya membaca dan mengkaji Al-Quran. Jika tidak demikian, setidaknya mengantarkannya kepada seorang guru agama yang tepercaya.

Singkatnya, orang tua yang saleh akan melahirkan anak-anak yang juga saleh. Seperti dalam sebuah adagium bahwa anak itu mewarisi setengah ilmu orang tuanya. Termasuk di dalamnya mewarisi kepribadian hasil-olah ilmu dan kesalehannya. 

 

 

 

Waktu Shalat Hari ini, 15 Oktober 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-