Orang Tua Sebagai Teladan Pertama (2)

12 Januari 2019 Posted by
Orang Tua Sebagai Teladan Pertama (2)
Kejujuran kita, baik buruknya ucapan kita, perhatian kita, dan tingkah keseharian kita, menjadi konsumsi pertama anak-anak kita. Mereka akan selalu membandingkan sikap barunya dengan sikap kita. Ini baik, Ini buruk. Ini jujur, ini dusta, merupakan pancaran kepribadian kita. Kasih sayang dan sentuhan bijak kita hari ini akan membentuk perangai indah di masa depan mereka.

URBANESIA.CO.ID - Adagium anak mewarisi ilmu orang tuanya dapat dengan jelas kita lihat dalam kebiasaan laku anak. Biasanya, anak akan melihat kebiasaan orang tua, lalu meniru dengan gayanya yang khas. Apa yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan di dalam rumah, itulah separuh ilmu ayah-ibunya.

Alangkah beruntungnya anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang baik. Mereka menyaksikan orang-orang yang baik perangainya. Kedua orang tuanya memiliki kebiasaan baik. Tetapi, begitu nestapanya ketika yang terjadi sebaliknya; yang dilihat dan di sekitarnya orang yang tak mendorong dan tidak memberikan contoh dan mengajak pada kebaikan. 

Maka, isyarat Nabi untuk menyuruh anak menegakkan shalat di usia tujuh tahun, dan memukulnya di usia sepuluh tahun harus dimaknai lebih luas. Artinya, jauh sebelum itu, orang tua telah mempersiapkan anak-anak dengan teladan yang baik. 

Tujuh tahun bukanlah usia mutlak tanpa stimulan sebelumnya. Sentuhan pendidikan keimanan dan instalasi rukun Islam, serta teladan pada kebaikan seharusnya telah menjadi aktivitas harian yang sudah membiasa. Sehingga ketika usianya telah mencapai tujuh, anak tidak lagi terkejut dengan perintah-perintah itu.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah tiga komponen dalam pendidikan anak sesuai ajaran Nabi: Mencintai Nabi saw., keluarganya, dan membaca Al-Quran. Secara lengkap hadis ini berbunyi: “Ajarkanlah anak-anak kalian tiga hal: Mencintai Nabi, mencintai keluarganya, dan membaca Al-Quran. Karena orang yang senantiasa bergumul bersama Al-Quran akan berada di bawah naungan Allah ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya bersama para Nabi dan orang-orang suci.”

Lantas, bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan bersama anak-anak tersayang? Tidak kurang orang menulis tentang biografi Muhammad saw. keluarga dan para sahabatnya. Banyak dari mereka yang telah menggubahnya ke dalam versi animasi dan kartun. Ini semua bisa kita bacakan kepada mereka. 

Teladan heroik dari tokoh-tokoh Islam sepatutnya lebih mendominasi akal dan hati mereka ketimbang heroisme tokoh-tokoh fiktif dalam film dan komik animasi. Kisah penaklukan Shalahuddin al-Ayyubi atau keberhasilan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz harus menjadi oral story yang selalu diperdengarkan kepada mereka.

Selayaknya Al-Quran kita jadikan kitab pertama yang mereka kenal dalam kehidupannya. Orang tua dan siapa saja yang terlibat dalam pengasuhan anak seharusnya akrab dengan Al-Quran. Tidak sekadar bacaan mingguan dengan surat yang itu-itu saja, lebih dari itu menjadikannya bacaan harian dengan tertib dan runut. 

Sehingga anak-anak akan tumbuh dalam kerangka pikir dan zikir sosial yang penuh kebaikan. Hari-harinya terhiasi dengan ruang lingkup keluarga dan lingkungan yang sehat secara ruhani, tanpa mengesampingkan aspek-aspek material duniawi sebagai bekal menuju ukhrawi.

Wudhu bersama ayah / http://theidealmuslimman.com

2. Pendidikan Akhlak dan Etika

Setelah diperkenalkan dengan pendidikan keimanan beserta segala turunannya, tahap selanjutnya adalah memperkenalkan berbagai kebiasaan dan perangai yang baik. Etika dan akhlak mulia tidak lain merupakan buah pendidikan keimanan yang dalam. 

Saat akal pikirannya telah mampu mencerna dan sanggup menggunakan akal pikirannya, di situlah orang tua mulai menjelaskan keutamaan-keutamaan sikap dalam kehidupannya. Ini baik, ini buruk; ini tindakan jujur, ini tindakan dusta, dan lain sebagainya. 

Seorang anak mulai diajarkan kejujuran, dan menjaganya agar tidak berdusta atau bersikap munafik. Langkah ini harus dimulai dari orang tua untuk selalu berkata jujur dalam segala hal. Menjaga dirinya agar tidak bertindak culas, baik di depan anaknya maupun dalam persoalan lain di belakangnya. 

Sebab, orang tua memiliki hubungan darah yang secara tidak langsung menyambungkan garis ruhani dengan anak. Secara tidak langsung anak akan merekam dan meniru sikap orang tua manakala ia berlaku dusta, meski tidak melihat dan mendengarnya. Anak akan merasakan kejujurannya ketika orang tuanya juga berbuat kejujuran di belakangnya.

Isyarat ini pernah disampaikan Rasulullah saw. dalam riwayat ath-Thabarani: “Hormatilah atau berbuat baiklah engkau kepada kedua orang tuamu, kelak anak-anakmu akan menghormati dan berbuat baik padamu. Dan janganlah engkau mengusik perempuan lain, kelak perempuanmu (istri atau anak perempuan) akan diusik.”

Artinya, apa pun yang keluar dari orang tua akan menjadi role model bagi anaknya. Anak akan merekam tingkah laku orang tuanya yang akan ia tuai kelak pada masa dewasanya. Orang tua harus membiasakan untuk menjaga lisannya dari ucapan-ucapan kotor dan keji, sehingga anak akan menjaga diri dari perkataan kotor dan perbuatan keji. 

Salah satunya dengan mengontrol dan mengawasi kesehariannya dan teman bermainnya. Selepas bermain di luar, apakah ia membawa “oleh-oleh” yang baik atau buruk? Sekiranya membawa tingkah dan ucapan yang baru, orang tua harus memahaminya dengan sebaik-baiknya. Mencermatinya gejala-gejala kejiwaan dengan saksama, apakah tindakan dan uacapannya positif atau negatif?

Mencermati gejala kejiwaan anak menjadi tanggung jawab orang tua dan pendidik. Jika terjadi perubahan, selayaknya orang tua harus segera menanganinya secara serius. Berkonsultasi kepada ulama, kiai, atau psikiater. Jangan sampai perubahan negatif tersebut terjadi berlarut-larut hingga kita kesulitan membenahinya. 

Memberikan perhatian menjadi kewajiban orang tua dan para pendidik. Perhatian itu tidak sekadar memberikan semua yang menyenangkan, tetapi menanamkan sentuhan kasih dan bijak agar anak kita benar-benar menganggap bahwa kita “ada” di sampingnya. Bahwa orang tuanyalah yang menjadi sandaran utama setelah Allah dan Nabinya. Wallahu a’lam bish shawab

 

Waktu Shalat Hari ini, 18 Agustus 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-