Anugerah Kesenangan Hati (3)

15 Januari 2019 Posted by
Anugerah Kesenangan Hati (3)
Bahasa yang dipakai dalam al-Qur’an sangat sederhana: penyejuk pandangan mata dan imam bagi orang-orang yang bertakwa. Namun, ungkapan itu sudah memberi gambaran yang utuh tentang kehidupan keluarga yang baik.

URBANESIA.CO.ID – Tulisan ini merupakan pembahasan ketiga dari delapan ulasan tentang “Mengurai Makna Kata Anak dalam Al-Qur’an”. Dalam tulisan sebelumnya, kita sudah membabar tentang anak sebagai hiasan hidup di dunia dan dijadikan indah pandangan manusia akan nikmat yang berupa keturunan ini.

Lalu apa makna doa yang biasa kita panjatkan, “Ya Allah, jadikanlah kami imam atau pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Secara sederhana, takwa bisa dimaknai sebagai rasa takut. Apakah ini berarti kita sedang berdoa agar menjadi pemimpin bagi orang-orang yang penakut.

Tentu tidak demikian. Takut di sini bukanlah takut terhadap sesuatu yang menyeramkan atau takut karena tekanan, intimidasi, atau ancaman tentang hidup dan kehidupan di dunia. Betul, manusia memang diuji dengan rasa takut, rasa lapar, kegelisahan jiwa, serta kekurangan harta, buah-buahan dan makanan

Namun, itu baru ujian, belum rasa takut yang sebenarnya karena sifatnya temporer. Allah SWT sudah menggariskan satu hukum alam, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Secara linier bisa dipahami atau mafhum muawaqah-nya, kalau kita takut terhadap sesuatu yang temporer, berarti ada rasa takut yang permanen. 

Tentu, kita akan lebih takut terhadap sesuatu yang permanen, berkepanjangan, apalagi kekal dan abadi. Ya, ada kehidupan sesudah kehidupan di dunia ini yang lebih abadi, yakni kehidupan di akhirat. Pilihannya cuma ada dua, surga dan neraka. Manusia melewati jalan panjang menuju pemberhentian terakhir ini.

Karena itu, takut ini dalam tradisi sufi dijadikan sebagai media untuk mawas diri, yaitu mengaitkan kehidupan di dunia dengan kehidupan akhirat. Menjadikan hidup alam fana sebagai persinggahan menuju alam azali.

Rasa takut itu akan melahirkan kesadaran berdasarkan akal sehat dan kemantapan hati bahwa ia akan mengarungi perjalanan yang jauh. Untuk itu, ia akan mempersiapkan bekal yang cukup, meski ia tak tahu betul batas cukup itu seberapa. 

Karena itu pula, ia benar-benar mengharap ridha Allah karena khawatir kalau-kalau amal perbuatan yang menjadi bekal justru tak ada nilainya di hadapan Allah SWT. Keridhaan Allah ini menjadi jimat penyelamat di akhir hayat.

Jadi, menjadi pemimpin bagi kaum bertakwa berarti menjadi imam bagi orang yang mau mawas diri. Pemimpin dengan menggunakan kata imam di sini memiliki makna yang lebih luas dari kata amir. Amir adalah pemimpin yang khusus berlaku dalam pemerintahan dan ketatanegaraan. 

Sedangkan imam berarti pemimpin dalam etika, moral, dan keteladanan. Imam itu alladzi yaqumu fil amam. Imam adalah orang yang berdiri di depan. Karena berdiri di depan, maka dia akan mudah dilihat. Karena berdiri di depan, maka ia harus siap menjadi contoh atau teladan. 

Karena itu, imam shalat menyaratkan kefasihan bacaan, selain melihat usia kematangan. Dengan harapan, seorang imam shalat menjadi contoh yang baik dalam mendirikan shalat. Syarat bacaan itu material, sedangkan kematangan usia syarat moral. Jadi, lengkaplah keteladanan yang diberikan.

Demikian pula dalam kehidupan keluarga. Istri dan anak bisa menjadi penyejuk pandangan mata manakala ia mengikuti teladan yang baik. Sikap siap menjadi teladan dan mau meneladani inilah yang kunci kehidupan dalam keluarga.

Dari keluarga yang kuat, maka akan tercipta tatanan masyarakat yang kuat, yaitu masyarakat yang saling mau mawas diri, masyarakat yang saling berlomba menjadi teladan yang baik, masyarakat yang sadar betul bahwa mereka semua sama-sama sedang menempuh jalan panjang menuju keselamatan. 

Bisa dibilang, hanya pemimpin yang sejuk saja yang bisa menyejukkan. Hanya umat yang sejuk saja yang bisa melahirkan pemimpin yang menyejukkan. Sejuk dan menyejukkan—itulah kepemimpinan dalam tatanan masyarakat yang bertakwa. 

Alangkah indahnya ketika al-Qur’an menggambarkan, “Walladzina yaquluna rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama.“

Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Furqan [25]: 74)

Bahasa yang dipakai al-Qur’an ini sangat sederhana, yaitu penyejuk pandangan mata atau penyenang hati, serta imam bagi orang-orang yang bertakwa. Namun, ungkapan itu sudah memberi gambaran yang utuh tentang kehidupan keluarga yang baik. Rasa-rasanya tak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan keluarga yang tidak baik. Wallahu a’lam.

 

Waktu Shalat Hari ini, 18 Agustus 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-