Setan Sebagai Tertuduh

15 Januari 2019 Posted by
Setan Sebagai Tertuduh
Pada satu kesempatan, Rasulullah saw. dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt. tentang bagaimana perlakuan umatnya terhadap Al-Quran. Beliau menjawab, sebagaimana direkam Al-Quran: " Duhai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan. Mereka telah meninggalkannya terlampau jauh."

URBANESIA.CO.ID - Gerak langkah kehidupan manusia tidak selamanya berjalan baik. Adakalanya manusia berada dalam puncak kesuksesan, dan tak jarang pula ia duduk lama dalam keterpurukan. Kesuksesan dan keterpurukan senantiasa menghiasi ruang hidupnya. Nuansa fluktuatif dalam segala lini ini sedari awal harus disadari oleh setiap insan.

Dua posisi ini tidak hanya ada dalam ruang material manusia. Sisi batin pun mengalami hal yang sama: puncak keimanan dan keterjerembaban dalam godaan setan atau jebakan nafsu. Memang, kehadiran nafsu menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan duniawi. Tanpanya, kedinamisan kehidupan tak akan terwujud.

Akan tetapi, nafsu harus terarah ke sisi yang positif. Dalam arti, manusia jangan sampai mengalah di hadapan nafsu. Justru, nafsu harus ditundukkan, ditekan, sehingga mengantarkan pada kurva yang selalu meningkat. Melahirkan kerinduan pada Tuhan, yang terwujud dalam semangat ibadah dan amal saleh. 

Seperti disebutkan Imam al-Ghazali bahwa nafsu itu terbagi dalam tiga bagian: Pertama, nafsul ammarah bis su’ atau nafsu yang mendorong pada kejahatan. Nafsu ini cenderung agresif mendorong manusia pada kemabukan biologis dan kenikmatan-kenikmatan yang dilarang agama karena akan menjatuhkan manusia dalam kehinaan.

Kedua, nafsu lawwamah atau dorongan untuk menyesatkan tetapi sudah ada keterlibatan fakultas rasional. Ia telah memiliki nalar untuk berbuat kebaikan, namun pesona keburukan dan kenikmatan yang melenakan masih mendominasi dibandingkan kecenderungan pada kebaikan.

Ketiga, nafsul muthmainnah atau jiwa yang tenang. Tingkatan ini paling tinggi dalam struktur jiwa manusia, sebab pada tingkatan ini manusia telah mampu meredam gejolak syahwat dan sifat-sifat kebinatangannya. Bahkan, telah mampu menangkap cahaya Ilahi sehingga ia mulai mengenal Tuhannya. 

Jika tidak demikian, sejatinya manusia hanya akan menjalani tipudaya nafsu, dan menuruti kemauan setan. Padahal setan yang menjelma dengan nama Iblis itu hanya sebagai pemantik. Ia hanya menggoyangkan pasak keimanan manusia, tanpa bertindak lebih lanjut. Seterusnya, manusialah yang bertindak. Manusia tertipu oleh talbis Iblis yang menggerogoti kedalaman jiwanya. 

Setan sebagai tertuduh pada akhirnya tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Coba perhatikan Qs Ibrahim [14]: 22: 

"... dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. " 

Sebenarnya ini pertarungan antara kebenaran janji Allah dan janji setan. Bahkan setan sendiri pun mengakui kebenaran janji Allah. Janji setan hanya tipuan yang melalaikan. Ia akan melepaskan tanggungjawab ketika manusia berbondong-bondong menuntutnya. Ia sendiri mengingkari kebenaran perbuatannya untuk mempersekutukannya dengan Tuhan.

ilustrasi Domba Jantan/  https://pixabay.com

Dalam buku Love is the Wine: Talk of a Sufi Master ini America, Syekh Muzaffer Ozak mengisahkan satu narasi yang hampir senada dengan ayat di atas. 

Suatu ketika Iblis berkata: “Apa-apaan ini? Ini tidak adil! Apa yang telah diperbuat manusia, segala hal buruk yang terjadi mereka selalu menyalahkan aku. Memangnya salahku apa? Aku tidak bersalah. Baiklah, akan kutunjukkan padamu bagaimana aku selalu dituduh atas semua keburukan yang terjadi.”

Di sana ada seekor domba jantan yang kuat, lehernya diikat dengan tali ke sebuah pasak yang menancap di tanah. Iblis menggoyang pasak itu, kemudian berkata: “Nah, Cuma itu yang kulakukan. Hanya itu saja.”

Domba itu pun menanduk-nanduk hingga pasaknya tercabut dari tanah. Pintu pemilik rumah sedang terbuka, dan dinding ruang masuk ada sebauh cermin antik yang indah. Domba itu melihat bayangannya sendiri dalam cermin dan menunduk. Domba itu berpikir gambaran dalam cermin sebagai musuhnya. Lantas, domba itu pun menyeruduk cermin hingga pecah berkeping-keping. 

Nyonya pemilik cermin berlari ke bawah dan mendapati cermin antik kesayangannya hancur berantakan. Cermin itu warisan turun temurun dari moyangnya. Ia pun berteriak kepada pelayan untuk segera memotong leher domba itu. Pelayan pun segera melakukan perintah sang nyonya rumah.

Domba itu kesayangan suaminya. Dari kecil dirawat dan diberi makan dengan tangannya sendiri hingga tumbuh besar. Mendapati dombanya bersimbah darah dan mati tersembelih, suami pun marah besar. 

“Akulah yang menyembelihnya karena dombamu itu telah menghancurkan cermin antik warisan moyangku.” Jawab istrinya. Suami dengan segera membalas, “Kalau begitu, sekarang kau kuceraikan.”

Para tetangga pun bergunjing kepada kakak si istri bahwa ia diceraikan suaminya hanya gara-gara menyembelih kambing suaminya. Lalu Semua kakak dan adik si istri menjadi sangat marah. Mereka segera mengumpulkan seluruh sanak saudara dan segera memburu si suami, lengkap dengan senapan, pistol, dan parang. 

Si suami mendengar kabar tentang kedatangan mereka pun segera memanggil seluruh kerabatnya untuk membelanya. Akhirnya, pecahlah pertempuran dua keluarga besar itu, yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban terbunuh, serta banyak rumah mereka yang hangus terbakar.

Diam-diam Iblis berkata sambil menyeringai, “Kau lihat, memangnya apa yang kuperbuat? Aku cuma menggoyang-goyang pasak. Kenapa semua hal buruk yang mereka lakukan jadi salahku? Aku hanya sedikit melonggarkan pasak.”

Maka dari itu, sebagai manusia yang lemah selayaknya kita mengenali tipu daya Iblis yang merasuk ke dalam jiwa. Memperkokoh jiwa kita dengan amalan-amalan ringan yang dawam atau terus menerus. Membersihkannya dengan rapalan zikir. Mengisinya dengan muatan tafakkur, keberpikiran mendalam tentang semesta raya dan kuasa-Nya   

Karena, bagaimana pun manusia akan kembali kepada penciptanya. Ia akan melepaskan diri dari semua ikatan duniawi, dan kembali ke hadirat Tuhan untuk membawa amalan jasmani dalam rupa ruhani. Wallahu a'lam bish shawab

Waktu Shalat Hari ini, 15 Oktober 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-