Farid Esack: Being Muslim in Globalizing World

27 Maret 2019 Posted by
Farid Esack: Being Muslim in Globalizing World
Dahulu, ketika seseorang diperdengarkan Kitab Suci, ia akan diam mendengarkan dengan sepenuh jiwa dan raganya sebagai penghormatan pada suara Tuhan. Namun saat ini orang bisa beraktivitas sambil mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an melalui MP3, seperti di ruang tunggu, mall, swalayan, dan lain sebagainya

Oleh: Abdul Jabpar

URBANESIA.CO.ID - Al-Quran adalah kitab yang shalih likulli zaman wa makan. Begitu kira-kira adagium yang sering kita dengar. Dalam arti, ia kitab yang dapat berbicara dalam segala ruang lingkup dan masa.

Termasuk menjadi muslim di dunia global, harus mampu menyuarakan Islam yang rahmatan lil 'alamin. Bagaimana menjadi seorang Muslim, tetapi dalam waktu bersamaan dituntut berbuat baik kepada non-Muslim, bersikap moderat dalam pergaulan, membela hak-hak minoritas, dan lain sebagainya.

Inilah yang coba dihadirkan Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam Public Lecture bertema  “The Qur’an and Being Muslim in Globalizing World,” Selasa, 26 Maret 2019.

Hadir sebagai pembicara utama, seorang pakar kajian Al-Quran kawakan Profesor Farid Esack dari University of Johannesburg Afrika Selatan.

Sebagai pemikir Islam kontemporer, dia dikenal dengan beberapa karya seperti Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression, On Being Muslim: Finding a Religious Path in the World Today, dan lain sebagainya.

Acara yang dihelat di ruang seminar Pasca Sarjana yang dipandu oleh Dr. Phil. Munirul Ikhwan, Lc, MA, itu mendapat respons yang sangat antusias dari para mahasiswa. Terbukti dengan membludaknya peserta yang menghadiri kuliah umum tersebut.

Esack mengawali pembicaraanya dengan menyatakan bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki arti dan kesan yang luar biasa bagi dirinya.

Baginya, pernyataan itu bukan sekadar keramah-tamahan (basa basi. red) yang normal disampaikan seorang tamu yang mengunjungi sebuah negara. Nyatanya, nyaris seluruh dekorasi interior rumahnya didatangkan dari Indonesia, bahkan seluruh pakaian yang dikenakannya berasal dari negeri ini. Lebih jauh, dia menyukai Indonesia dengan seluruh budaya dan keberislamannya.

Terkait tema diskusi yakni Al-Qur’an dan dunia yang mengglobal, dia menyatakan bahwa globalisasi telah mengubah kehidupan manusia, lebih-lebih mengubah pola interaksi manusia terhadap Al-Qur’an sebagai teks suci (ligua sacra) atau kalamullah. Khususnya, dengan perkembangan teknologi media yang sangat mengagumkan melalui internet.

Menurut Esack, dahulu ketika seseorang diperdengarkan Kitab Suci, ia akan diam mendengarkan dengan sepenuh jiwa dan raganya sebagai penghormatan pada suara Tuhan. Namun saat ini orang masih bisa beraktivitas sambil mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an melalui MP3, seperti di ruang tunggu, mall, swalayan, dan lain sebagainya.

Tantangan-tantangan lainnya adalah mengenai persoalan minoritas baik itu masalah gender atau LGBT, atau persoalan gerakan Islam radikal yang sangat berbahaya. Umat Islam harus menjawab persoalan tersebut didasarkan pada Al-Qur’an.

Esack juga menegaskan, tidak mudah memang menjawab tantangan-tantangan tersebut, karena itu penafsiran Al-Qur’an tak harus melulu merujuk pada teks, tetapi konteks harus diperhatikan sebab teks lahir dari sebuah konteks ruang waktu yang melahirkannya.

Dalam dunia internasional, Farid Esack dikenal sebagai  sarjana, penulis, dan aktivis politik Muslim Afrika Selatan. Lahir tahun 1959, ketika  Apartheid sedang diberlakukan.

Ia menghabiskan masa kecil bersama ibunya. Kemudian, sejak tahun 1974, di usia 15 tahun Esack memasuki jenjang pembelajaran di Jami’a Alamiyyah al-Islam, Karachi Pakistan. Delapan tahun kemudian ia lulus dengan gelar Maulana.

Setelah itu, ia kembali ke Afrika Selatan untuk ikut memperbaiki keadaan Negerinya.

Dua tahun kemudian, Esack ikut menginisiasi lahirnya organisasi Islam Call of Islam penentang Apartheid.

Dari ide-idenya tentang persamaan hak, Call Of Islam berbeda dengan organisasi Islam lainnya. Organisasi ini bahkan menjalin kerja sama dengan organisasi apa pun tanpa memandang perbedaan agama.

Dengan kiprahnya itulah, Esack ditunjuk langsung oleh Nelson Mandela sebagai komisaris kesetaraan gender dan dialog antar-agama.

Waktu Shalat Hari ini, 18 Agustus 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-