Brenton Tarrant: I Hate You!

02 April 2019 Posted by
Brenton Tarrant: I Hate You!
Penembakan membabi buta oleh Brenton Tarrant yang menyasar dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, menorehkan duka yang mendalam. Negeri yang mendapat penilaian paling Islami, diusik oleh aksi penembakan masal. Seluruh dunia mengutuk aksi Tarrant.

Oleh Lutfi Arya

(Psikolog, Head of Bullying Crisis Center, Penulis buku “Melawan Bullying”)

URBANESIA.CO.ID -Tarrant menembaki puluhan jamaah masjid dengan menggunakan sebuah senjata yang dilapisi graffiti supremasi kulit putih sambil mendengarkan lagu yang memuji penjahat perang Serbia, Radivan Karadzic. Hal ini menegaskan adanya sebuah keyakinan keliru yang menjadi motivasi pembantaian paling berdarah di Selandia Baru.

Ya.. keyakinan yang keliru dapat mengantarkan seseorang kedalam pemikiran yang keliru juga. Albert Ellis seorang psikolog Amerika menyatakan bahwa terdapat beberapa jenis pemikiran yang keliru (dysfunctional thinking) yang biasanya diterapkan oleh kebanyakan orang, yaitu (1) mengabaikan hal positif, (2) terpaku pada hal negatif, (3) terlalu cepat menggenalisir. 

Dalam berpraktik Ellis menggunakan model ABC untuk menganalisa kondisi kliennya. A adalah activating experiences yang artinya adalah situasi atau pengalaman yang menjadi pemicu; B adalah belief’s yang  artinya adalah keyakinan (termasuk pikiran) yang muncul dari kondisi A; dan C adalah consequences yang artinya adalah konsekuensi yang muncul akibat dari pemikiran poin B. Menurut Ellis, pikiran, perasaan dan perilaku individu adalah suatu hal yang terintegrasi, interaktif dan merupakan sebuah proses yang holistik.  

Dari model itu, apa yang menjadi activating agent, apa keyakinan yang muncul dan perilaku apa yang dilakukan Tarrant? Mengutip dari CNN.com, arus imigran yang terus mengalir dari negara berkonflik, menjadikan Australia dan Selandia Baru sebagai tujuan pencari suaka. Dalam perkembangannya, para imigran ini diterima dengan baik dan mendapatkan hak dan perlindungan yang sesuai peraturan yang berlaku.

Banyaknya imigran yang diterima, membuat kesempatan kerja pribumi menjadi “sempit”. Suksesnya beberapa imigran secara ekonomi membuat kecemburuan tinggi. Ditambah lagi mereka harus membayar pajak besar yang digunakan untuk membiayai imigran. Permasalahan melebar pada ras dan agama. Pemicu lainnya, bahwa Tarrant terinspirasi dari Anders Behring Breivik di Norwegia dan ideolog anti-imigran Renaud Camus di Prancis.

Situasi imigran yang membuat kecemburuan sosial dan ideologi anti-imigran menjadi “activating experiences”. Lalu A memicu belief (B). Apa saja belief Tarrant?  Bisa jadi, Tarrant berkata dalam hati “bahwa imigran tidak layak hidup disini, imigran tidak boleh lebih sukses dari pribumi, saya benci imigran”. Kebencian yang memuncak membuatnya nekat melakukan penembakan masal. Penembakan masal adalah konsekuensi (C) dari keyakinan yang salah (dysfunctional thinking). 

Dalam melihat suatu fenomena, selayaknya kita tidak mengabaikan hal positif, terlalu terpaku pada hal negatif, dan terlalu cepat menggenalisir. Be positive be supportive!

  • Ilustrasi Foto dalam tulisan ini diambil dari kompas.com

Waktu Shalat Hari ini, 18 Agustus 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-