Aminah: Mata Air Kenabian

27 April 2019 Posted by
Aminah: Mata Air Kenabian
Engkau akan diutus kepada seluruh manusia Kau menjadi utusan di tanah halal dan tanah haram Kau diutus membawa pengesaan dan kedamaian Agama leluhurmu manusia mulia, Ibrahim

Oleh: Tajul Muluk, S, Th.I, M.Ag

(Pengasuh Majelis Ta'lim Al-Intifa' Yogyakarta)

URBANESIA.CO.ID - Aminah, putri dari Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Lu'ay bin Ghalib. Beliau adalah Ibunda baginda Rasul Muhammad saw. Al-Qirmaniy, seorang sejarawan menulis tentang Aminah dengan sangat baik. Aminah adalah seorang wanita yg beruntung. Allah menganugerahkan kepadanya kecantikan yang sempurna, baik secara lahir maupun batin. Di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya, ia dikenal sebagai sosok perempuan yang bijaksana. 

Gaya komunikasinya cerdas, ungkapannya mengandung kebijaksanaan, dan bahasanya penuh dengan keindahan. Tidak ada wanita Arab lainnya yang memiliki kemampuan serupa dengannya. 

Di kota Mekah, Aminah dikenal sebagai salah satu penyair perempuan yang hebat, karirnya cukup cemerlang. Bagi masyarakat Arab, terutama penduduk Mekah, bersyair adalah kegiatan intelektual saat itu. Syair menjadi salah satu karya intelektual yang dilombakan. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah kehormatan berupa penempatan karya syair di dinding Ka'bah yang dikenal dengan al-Mua’allaqat.

Jelang kewafatannya, dalam kondisi naza', bayi Muhammad sedang bermain di sisinya. minah dirundung rasa sedih yang teramat dalam karena harus meninggalkan putra kesayangannya dan suaminya. Yatim tanpa ayah dan ibu. 

Dalam suasana batin yang dikepung kesedihan itu, Aminah menggumamkan syair untuk putra kesayangannya:

 

Semoga Allah memberkahimu

Semenjak masa kanak-kanakmu

Duhai anak lelaki yang digenangi keberuntungan

(Engkau) selamat

Sebab pertolongan Sang Penguasa yang Mahatahu

Dari hujan anak panah di pagi hari

Dengan derap serombongan ratusan unta

Jika memang benar apa yang kulihat dalam mimpiku

Engkau akan diutus kepada seluruh manusia

Kau menjadi utusan di tanah halal dan tanah haram

Kau diutus membawa pengesaan dan kedamaian

Agama leluhurmu

manusia mulia, Ibrahim

Allah telah menjagamu dari berhala

Agar tak menyembahnya seperti para penyembah itu

 

Selesai menyenandungkan syairnya, Aminah berkata: “Setiap yangg hidup akan mati, setiap yang baru akan layu, dan yang besar akan sirna. Meski diriku telah mati, tapi ingatan (tentang)ku akan tetap ada.” 

Aminah wafat 45 tahun sebelum sebelum hijriyah. Saat itu putra terkasihnya baru berusia 6 tahun. Beliau dimakamkan di Abwa', karena wafat dalam perjalanan pulang dari menziarahi makam suaminya tercinta, Abdullah bin Abd al-Muththalib. Perjalanan ziarah dan waktu kewafatan itu terjadi saat usia baginda Rasul memasuki tahun keenam. Sang mertua, Abd al-Muththalib turut menyertai Aminah bersama Ummu Ayman, pengasuh Rasulullah Muhammad saw.

Sebuah pelajaran penting dari kisah ini adalah, ibu yang hebat akan melahirkan generasi yang hebat pula. Terlepas dari kepangkatan Muhammad yang di kemudian hari diangkat menjadi Rasul, ibu adalah sekolah pertama. Tempat belajar anak sejak dalam pangkuannya. Seperti ungkapan penyair Nil, Hafidz Ibrahim, yang mendendangkan bait syair yang sangat indah:

Ibu adalah madrasah
Jika engkau mempersiapkannya
Maka kau telah mempesiapkan bangsa yang tangguh

Ibu adalah taman
Bila engkau menyemainya dengan air kesejukan
Taman itu akan menumbuhkan pohon
Dengan dedaunan lebat menghijau

Ibu adalah guru dari semua guru
Jejak kakinya terpateri sepanjang sejarah dunia

Karakter sang ibu yang begitu kuat melekat pada diri Nabi saw. Beliau senantiasa mengingatkan akan pentingnya teladan baik dari para ibu. Salah satunya disampaikan dalam hadis yang masyhur, “Setiap anak terlahir dalam keadaan suci. Maka Ayah dan Ibunya yang bertanggung jawab menjadikannya Majusi,Yahudi, Nasrani atau Muslim.”

Artinya, potensi kebaikan dari yang paling dasar ada pada orang tua. Potensi dasar berupa pendidikan ketauhidan yang akan mengantarkan anak dalam bersikap dan menyikapi kehidupan dunia menuju akhirat. 

Maka dari itu, selayaknya para ibu selalu berkaca, bukan sekadar memandang kecantikan lahiriah semata. Tetapi lebih dari itu melihat ke dalam diri, kecantikan batin yang justru harus kita utamakan. Sudahkah kita mampu menjadi teladan kebaikan dan kebenaran bagi anak-anak kita? Karena kita semua tahu bahwa jernihnya air yang mengalir berasal dari sumber mata air yang jernih. Keruhnya air yang mengalir, berasal dari sumber yang keruh. 

Semoga kisah ini dapat menginspirasi para Ibu dan calon Ibu millenial.

Waktu Shalat Hari ini, 18 Agustus 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-