Semarakkan Literasi, Fakultas Dakwah IAIN Salatiga Gelar Festival Literasi

02 Mei 2019 Posted by
Semarakkan Literasi, Fakultas Dakwah IAIN Salatiga Gelar Festival Literasi
Khairul menjelaskan, semangat menulis bisa dipantik dari berbagai motivasi. Bisa dari keinginan syiar dan dakwah, bisa motivasi ekonomi, atau sekadar hobi.

Dunia media dan digital yang semakin menggeliat pada hakikatnya menampilkan satu dimensi baru dalam khazanah literasi. Media digital mengundang banyak orang untuk menulis melalui FB, Twitter, Whatsapp, dan lain-lain.

Semangat literasi ini juga menarik minat para mahasiswa IAIN Salatiga untuk mengadakan perhelatan Festival Literasi bertemakan, "Meningkatkan Minat dan Kualitas Literasi Anak Bangsa dalam Mewujudkan Cita-cita Luhur Indonesia" pada Rabu, 1 Mei 2019.

Acara tersebut dipuncaki dengan seminar literasi bersama dua pemantik: Budi Maryono, penyair, novelis, dan esais dari Semarang, dan Khairul Imam, dosen dan penggiat literasi dari Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Budi Maryono menyampaikan bahwa di Amerika pada tahun 70an, menulis telah menjadi semacam terapi bagi orang-orang bermasalah. Suatu cara menumpahkan semua kegelisahan hatinya untuk dituangkan dalam tulisan. Ia menjadi semacam kanalisasi kegalauan dalam hidup, sehingga kegundahan yang menyumpat dada pun terekspresikan.

Selain itu, ketika ditanya soal tips dan sumber inspirasi menulisnya, Budi mengatakan bahwa inspirasinya bermula dari kehidupan. Sementara membaca menjadi caranya untuk menguatkan reverensi.

"Dan inspirasi saya yang utama adalah Al-Quran. Bagaimana Nabi Muhammad saw. ketika diperintah membaca, tetapi beliau tidak bisa membaca. Maka yang beliau baca adalah keadaan. Keadaan di mana Allah menciptakan segala sesuatu. Saya sendiri pun melahap semua buku sejak remaja. Bahkan buku tentang koperasi pun saya baca," tegasnya.

Sementara itu, Khairul Imam, sebagai pemantik kedua banyak berbicara tentang tradisi literasi dan kepustakaan, baik klasik maupun kekinian.

Khairul menjelaskan, semangat menulis bisa dipantik dari berbagai motivasi. Bisa dari keinginan syiar dan dakwah, bisa motivasi ekonomi, atau sekadar hobi.

Ia juga membagikan salah satu motivasinya, "Menulislah, maka kamu akan kaya." Karena dengan kekayaan itu bisa berupa materi dan kekayaan ilmu pengetahuan. Dengan menulis, kita dituntut membaca. Dengan membaca kita akan kaya dan serasa memiliki segalanya.

Berdasarkan cerita pengalaman Khairul dalam menghidupkan Taman Baca Masyarakat Ibnu Sina di daerah Sleman, memang tidak mudah memantil anak-anak untuk membaca. Tapi lambat laun mulai ada perkembangan, walaupun masih sedikit.

"Anak-anak, meski belum termuat di media, tapi anak-anak usia SMP dan SMA sudah mulai geliat menulis. Setiap hari mereka harus menulis dan memiliki buku bacaan dari perpustakaan. Alhamdulillah, mereka sekarang sudah terbiasa membaca dan menulis," terangnya.

Akan tetapi, pertanyaan yang lebih mendasar dari itu semua adalah, apa setelah seminar, lokakarya, workshop literasi? Seberapa jauh kegiatan ini mampu membuat kita untuk serius menulis. "Maka, harus diikat dengan komunitas yang saling menyemangati, ada semacam klinik naskah untuk saling mengoreksi tulisan terbaru, ada komunikasi dan mau berguru kepada penulis yang lebih senior," tambah Khairul.

Kemeriahan bertambah riuh ketika dibacakan satu puisi "Candu" oleh Budi Maryono sebagai penutup acara Festival Literasi. Antusiasme mahasiswa pun seperti terbakar untuk tak sabar menorehkan penanya dan segera bersemangat membaca dan menulis. Semoga!

Waktu Shalat Hari ini, 15 Oktober 2019

Subuh

-

Dhuha

-

Dzuhur

-

Ashar

-

Maghrib

-

Isya

-